Travel Story

Kadis Pariwisata Buleleng Terapkan Prinsip NEKAT

TRAVIAMGZ.com, DENPASAR – Sebagai kabupaten dengan wilayah terluas di Bali, Buleleng memiliki kekayaan alam yang luar biasa ditambah wisata sejarah dan budaya yang patut diacungi jempol. Meski demikian, Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng tak berpuas diri. Segala inovasi dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisata.

Di antaranya dilakukan lewat identifikasi dan inventarisasi daya tarik wisata (DTW) yang dulunya hanya berjumlah 19 objek wisata, kini meningkat pesat menjadi 86 DTW). Begitu juga dengan desa wisata, yang sebelumnya hanya berjumlah 11, sekarang berkembang menjadi 33 desa wisata.

“Semuanya dipromosikan semaksimal mungkin, baik di tingkat regional, nasional dan internasional. Target kami adalah mendatangkan wisatawan baik dari nusantara maupun mancanegara,” ujar Nyoman Sutrisna, Kepala Dinas Pariwisata Buleleng saat ditemui di kediamannya di daerah Singaraja.

Kordinasi dan kerjasama pun gencar dilakukan. Baik dengan pelaku industri seperti PHRI dan ASITA. Semua akses kawasan wisata baik dari darat, laut dan udara pun dimaksimalkan. Maka tidak berlebihan, ketika terjadi erupsi Gunung Agung, Buleleng tidak merasakan dampak signifikan dari sisi jumalh kunjungan wisatawan.

“Bersyukur pada tahun 2018, suidah ada tiga kapal pesiar yang terdaftar akan hadir di Dermaga Celukan Bawang, Buleleng. Kami menjalin komunikasi dengan seluruh pihak travel untuk mendatangkan kapal pesiar ataupun yachter, baik dari kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Total  sudah ada 18 kapal pesiar yang terdaftar akan berkunjung ke Buleleng,”pria berkacamata ini memaparkan.

Komitmen dan capaian-capaian pariwisata yang diraih oleh Buleleng, sebut Nyoman, tak lepas dari prinsip kerja yang dipegang teguh oleh timnya. Ia merangkum prinsip tersebut menjadi NEKAT. Sebuah akronim yang menggambarkan cara berpikir dan cara kerja untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya.

N menggambarkan adalah niat yang merupakan rangkuman realisasi prinsip bekerja, bekerja dan bekerja. E adalah efektif, yakni setiap program yang dicanangkan wajib mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi baik dana maupun waktu.

K adalah unsur kreatif. “Wajib kreatif dalam merancang sebuah program seperti Mei 2018 mendatang aka nada Buleleng Expo. Mengemas event untuk mendatangkan kunjungan wisatawan tentunya harus kreatif,”katanya. A adalah aktif, seluruh tim dalam susunan organisasi dinas pariwisata yang dipimpin oleh Nyoman harus aktif dalam mempromosikan pariwisata dan mengembangkan networking. T adalah restu dan kekuatan dari Yang Mahakuasa,  Tuhan.

“Yang juga terpenting dalam setiap bekerja, kita harus menysukuri apa yang diberikan oleh Tuhan. Inilah yang menjadi pegangan kita dan tentunya juga tak melupakan filosofi Tri Hita Karana. Selama empat tahun ini sudah kita laksanakan dan sudah merasakan pembuktiannya,”Nyoman menjelaskan. Ia pun optimistis, target kunjungan 900  ribu wisatawan ke Buleleng dapat tercapai. (*)

KOMENTAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker