Travia Tips

Mengapa Tubuh Kita Mengalami Jet Lag? Ini Jawabannya..

TRAVIAMGZ.com, JAKARTA – Mengapa tubuh kita mengalami jet lag setelah bepergian menggunakan pesawat? Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cell mungkin bisa menjawab rasa penasaran Anda. Jawabannya sebetulnya sederhana: tubuh kita tidak bisa cepat beradaptasi dengan perubahan pola gelap dan terang bumi.

Peneliti dari University of Oxford, University of Notre Dame, dan F. Hoffmann La Roche mengidentifikasi sebuah mekanisme yang membatasi kemampuan tubuh menyesuaikan diri dengan perubahan pola gelap dan terang. Tim yang dipimpin Stuart Peirson dan Russell Foster melakukan percobaan ilmiah terhadap sekelompok tikus.

Studi mereka menunjukkan bahwa, jika aktivitas gen tertentu diblokir, tikus akan pulih lebih cepat dari gangguan siklus gelap/terang harian yang didesain untuk mensimulasikan jet lag. “Kami mengidentifikasi sistem yang secara aktif mencegah jam tubuh menyesuaikan diri,” kata Peirson, seperti dilansir laman Science Daily.

Hampir seluruh kehidupan di bumi memiliki jam tubuh circadian internal yang menjaga tubuh bekerja dalam siklus 24 jam, menyesuaikan beragam fungsi tubuh, seperti tidur dan makan, dengan siklus terang dan gelap. Ketika kita bepergian ke zona waktu berbeda, jam tubuh kita akan menyesuaikan diri dengan waktu lokal. Namun penyesuaian ini bisa berlangsung hingga satu hari untuk setiap 60 menit jam tubuh itu bergeser. Walhasil, selama beberapa hari berikutnya, tubuh akan merasa kacau dan kelelahan.

Pada mamalia, jam circadian dikendalikan oleh sebuah area otak yang disebut suprachiasmatic nuclei (SCN), yang menarik setiap sel tubuh ke dalam ritme biologis yang sama. SCN menerima informasi dari sebuah sistem khusus dalam mata, terpisah dari mekanisme untuk melihat. Sistem ini merasakan waktu setiap hari dengan mendeteksi cahaya lingkungan, menyesuaikan jam dengan waktu lokal.

Hingga saat ini, sangat sedikit yang diketahui tentang mekanisme molekuler bagaimana cahaya mempengaruhi aktivitas dalam SCN untuk mengatur jam circadian dan mengapa dibutuhkan waktu sangat lama untuk penyesuaian kembali ketika siklus cahaya berubah.

Dalam riset itu, Peirson dan tim menguji pola ekspresi gen dalam SCN terhadap kilasan cahaya selama periode gelap. Mereka mengidentifikasi sekitar 100 gen yang diaktifkan untuk merespons cahaya, mengungkap adanya rangkaian peristiwa yang beraksi untuk menyesuaikan kembali jam circadian.

Satu di antaranya adalah molekul SIK1, yang mematikan respons itu dan bertindak sebagai rem untuk membatasi efek cahaya terhadap jam tubuh. Ketika tim peneliti memblokir aktivitas SIK1, tikus menyesuaikan diri lebih cepat terhadap perubahan siklus cahaya.

Sistem penghambat tubuh menyesuaikan diri itu adalah mekanisme penyangga untuk menstabilkan jam circadian karena jam itu harus memastikan bahwa dia memperoleh sinyal yang dapat diandalkan. “Jika sinyal itu terjadi pada saat yang sama selama beberapa hari, jam menganggap hal itu mungkin punya relevansi biologis,” ujarnya. “Mekanisme inilah yang memperlambat kita menyesuaikan diri dengan zona waktu baru dan menyebabkan jet lag.” (*/tempo)

KOMENTAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker